Rasa bahagia, rasa menikmati kebersamaan, bahkan rasa menikmati waktu yang kita miliki.
Padahal, hidup perlu berjalan dengan seimbang. Sesekali kita membutuhkan sesuatu yang berbeda dari rutinitas agar rasa bahagia itu kembali hadir. Bisa dengan berkumpul bersama keluarga, bertemu teman-teman yang memiliki hobi yang sama, atau melakukan aktivitas sederhana yang membuat hati kembali terasa ringan.
Karena itu, ketika ada sebuah momen yang sudah lama kita nantikan, rasanya ingin sekali menikmati setiap detiknya. Bahkan ketika momen itu akhirnya datang, terkadang kita ingin menghentikan waktu sebentar.
Begitu pula dengan saya.
Ada satu momen yang setiap tahun selalu saya nantikan: arisan keluarga.
Momen Sederhana yang Selalu Saya Nantikan
Arisan keluarga bagi saya bukan sekadar berkumpul, makan bersama, atau menunggu siapa yang mendapatkan giliran arisan.
Lebih dari itu.
Ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan keluarga yang mungkin tidak setiap hari bisa saya jumpai. Ada ayah, ibu, bude, pakde, sepupu, keponakan, dan anggota keluarga lainnya.
Kesibukan masing-masing membuat kami tidak selalu bisa bertemu sesering yang kami inginkan. Ada yang sibuk bekerja, mengurus keluarga, menjalankan usaha, atau memiliki kesibukan lainnya.
Karena itu, ketika waktu untuk berkumpul akhirnya tiba, rasanya selalu ada kebahagiaan tersendiri.
Saya bisa duduk bersama mereka tanpa terburu-buru.
Bisa mendengar cerita masing-masing.
Bisa saling bercanda dan tertawa.
Bisa melihat perubahan anak-anak yang semakin besar dari tahun ke tahun.
Dan tentu saja, bisa mengabadikan beberapa momen melalui foto.
Mungkin bagi orang lain ini terlihat sederhana.
Tetapi bagi saya, kebersamaan seperti itu justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Ketika Mata Mulai Terasa Tidak Nyaman
Hari itu sebenarnya berjalan seperti yang saya bayangkan.
Suasana ramai, obrolan bersahutan, sesekali terdengar tawa. Saya pun ikut menikmati suasana sambil sesekali menggunakan ponsel untuk melihat foto dan mengabadikan kebersamaan kami.
Awalnya tidak ada masalah.
Namun, setelah cukup lama melihat layar, saya mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada mata.
Mata terasa sepet.
Saya berkedip beberapa kali.
Kemudian mulai terasa perih dan lelah.
Dalam hati saya sempat berpikir,
"Kok mata saya terasa begini, ya?"
Saya mencoba memejamkan mata sebentar. Saya kira rasa tidak nyaman itu akan segera hilang.
Ternyata tidak.
Semakin lama saya semakin menyadari bahwa mata saya membutuhkan istirahat.
Saat itulah saya mulai memahami apa yang selama ini sering saya anggap sepele: Mata SEpet, PErih, LElah ternyata bisa muncul ketika kita terlalu lama menatap layar atau ketika mata membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Hampir Mengganggu Momen yang Sudah Lama Saya Tunggu
Yang membuat saya merasa tidak nyaman bukan hanya kondisi mata saya.
Saya justru merasa sayang karena momen yang sudah lama saya tunggu hampir terganggu.
Saya ingin melihat wajah ayah dan ibu ketika sedang bercerita.
Saya ingin melihat senyum bude dan pakde.
Saya ingin ikut tertawa ketika sepupu dan keponakan mulai berceloteh dan bersenda gurau.
Saya ingin menikmati semuanya.
Tetapi beberapa kali saya harus memejamkan mata karena terasa lelah. Ketika melihat layar ponsel, mata juga terasa semakin tidak nyaman.
Dalam hati saya sempat berkata,
"Jangan sampai gara-gara mata seperti ini, saya malah tidak bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga."
Dari situ saya mulai sadar bahwa kesehatan mata ternyata sangat berkaitan dengan kualitas momen yang kita jalani.
Kita bisa berada di tempat yang sama dengan orang-orang yang kita cintai, tetapi kalau tubuh sedang tidak nyaman, kita mungkin tidak bisa benar-benar menikmati kebersamaan itu.
Sejak Saat Itu Saya Belajar Lebih Peduli
Pengalaman tersebut membuat saya mulai memperhatikan kebiasaan sehari-hari.
Saya menyadari bahwa saya cukup sering menggunakan ponsel dalam waktu lama. Kadang untuk pekerjaan, membaca pesan, melihat media sosial, menonton video, atau sekadar mencari sesuatu yang sebenarnya bisa menunggu.
Kalau sudah asyik, sering kali saya lupa waktu.
Padahal mata juga membutuhkan istirahat.
Sejak saat itu saya mulai berusaha memberikan jeda ketika terlalu lama menatap layar. Saya mencoba mengalihkan pandangan, berkedip lebih sering, dan tidak memaksakan mata ketika sudah terasa lelah.
Saya juga berusaha memperhatikan waktu istirahat dan kebutuhan cairan tubuh.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari hal sederhana itulah saya belajar untuk lebih mendengarkan apa yang sedang disampaikan oleh tubuh.
Kalau mata sudah terasa tidak nyaman, saya tidak ingin lagi langsung berkata, "Ah, paling cuma capek."
Sampai Akhirnya Saya Menemukan INSTO DRY EYES
Karena rasa sepet dan perih tersebut sempat mengganggu aktivitas, saya mulai mencari informasi mengenai cara membantu meredakan rasa tidak nyaman akibat mata kering.
Dari situlah saya menemukan INSTO DRY EYES.
Saya membaca informasi mengenai produknya terlebih dahulu. Setelah mengetahui bahwa Insto Dry Eyes ditujukan untuk membantu meredakan gejala mata kering, saya tertarik untuk mencobanya.
Bagi saya, produk yang praktis digunakan tentu menjadi salah satu pilihan ketika mata mulai terasa tidak nyaman.
Saat mata terasa kering, saya menggunakan Insto Dry Eyes sesuai petunjuk pada kemasan.
Pengalaman menggunakan Insto membuat saya merasa lebih nyaman sehingga saya bisa kembali melanjutkan aktivitas.
Tetapi pengalaman itu juga membuat saya semakin sadar bahwa menggunakan tetes mata bukan berarti kita boleh terus memaksakan mata bekerja.
Kalau mata lelah, beri waktu untuk beristirahat.
Kalau terlalu lama menatap layar, berikan jeda.
Kalau tubuh membutuhkan istirahat, jangan terus dipaksa.
Dan bila keluhan mata terasa menetap, semakin berat, atau tidak kunjung membaik, mencari bantuan tenaga kesehatan tentu menjadi langkah yang lebih tepat.
Media Sosial Bisa Menunggu
Ada satu hal yang sekarang lebih sering saya katakan kepada diri sendiri:
Media sosial bisa menunggu.
Pesan bisa dibalas nanti.
Video bisa ditonton kemudian.
Ponsel bisa diletakkan sebentar.
Karena kesehatan mata tidak seharusnya selalu menjadi nomor sekian.
Mata juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Saya pun mulai berusaha mengurangi paparan layar yang tidak perlu serta lebih memperhatikan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Ternyata, memberikan waktu untuk beristirahat bukan berarti kita kehilangan waktu.
Justru mungkin kita sedang memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali menikmati hidup dengan lebih baik.
Saya Tidak Ingin Mengulang Momen Itu
Setiap kali mengingat kejadian tersebut, saya justru merasa bersyukur.
Bukan karena pernah mengalami mata kering.
Tetapi karena dari pengalaman kecil itu saya belajar untuk lebih peduli.
Saya belajar bahwa sesuatu yang terlihat kecil ternyata bisa mengubah suasana yang seharusnya menyenangkan menjadi tidak nyaman.
Dan saya belajar bahwa momen berharga sebaiknya dinikmati dengan benar-benar hadir di dalamnya.
Tidak sibuk dengan rasa tidak nyaman.
Tidak sibuk menahan perih.
Tidak harus berkali-kali memejamkan mata karena terasa lelah.
Saya ingin, ketika suatu hari nanti kembali duduk bersama orang-orang yang saya sayangi, saya bisa benar-benar menikmati percakapan mereka.
Melihat senyum ayah, ibu, bude, pakde, sepupu, dan keponakan yang selalu menyejukkan hati.
Mendengar tawa mereka saat bersenda gurau dan berceloteh bersama.
Lalu menyimpan semuanya sebagai kenangan, sebelum masing-masing kembali pada rutinitas kehidupan.
Karena hidup ternyata bukan hanya tentang berapa banyak foto yang berhasil kita ambil.
Tetapi tentang berapa banyak momen yang benar-benar kita rasakan.
Jangan Menganggap SePeLe
Jadi, kalau mata mulai terasa SEpet, PErih, atau LElah, jangan buru-buru berkata,
"Ah, cuma sepele."
Saya sudah pernah merasakan sendiri bagaimana sesuatu yang dianggap kecil ternyata bisa mengganggu momen yang sangat berarti.
Sekarang saya memilih untuk lebih peduli.
Karena SePeLe bukan berarti boleh disepelekan.
Bagi saya, menemukan INSTO DRY EYES menjadi salah satu pengalaman yang membuat saya semakin sadar untuk menjaga kenyamanan mata dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun, tentu saja, menjaga mata tidak hanya tentang menggunakan tetes mata. Memberikan waktu untuk beristirahat, mengurangi paparan layar yang tidak perlu, dan memperhatikan kondisi tubuh tetap menjadi bagian penting dari kebiasaan sehari-hari.
Karena Mata Membantu Kita Menikmati Momen
Pada akhirnya, mata bukan hanya membantu kita melihat dunia.
Mata membantu kita melihat orang-orang yang kita cintai.
Mata membantu kita menyaksikan momen yang sudah lama kita tunggu.
Mata membantu kita melihat senyum ayah dan ibu, mendengar tawa keluarga sambil melihat wajah mereka, dan menyimpan kenangan yang kelak mungkin hanya bisa kita ingat ketika masing-masing sudah kembali menjalani rutinitas kehidupan.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa saya sekarang tidak ingin lagi menganggap rasa sepet, perih, dan lelah pada mata sebagai sesuatu yang boleh diabaikan.
Karena saya tidak ingin kehilangan sedikit pun bagian dari momen berharga bersama keluarga hanya karena menganggapnya sepele.
Saya ingin ketika kesempatan untuk berkumpul kembali datang, saya bisa hadir sepenuhnya.
Bukan hanya tubuh saya yang ada di sana.
Tetapi juga perhatian, perasaan, dan kebahagiaan saya.
Karena momen yang kita tunggu begitu lama, ketika akhirnya datang, rasanya memang ingin kita hentikan waktunya sebentar.
Agar bisa lebih lama menikmati tawa.
Lebih lama melihat senyum orang-orang tercinta.
Dan lebih lama merasakan hangatnya kebersamaan.
Jadi, yuk, lebih peduli sebelum rasa tidak nyaman datang dan mengambil sedikit bagian dari momen berharga kita.
Karena yang terlihat SePeLe, belum tentu boleh disepelekan.
#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein

Posting Komentar
Posting Komentar