“Namanya juga suami-istri, jangan terlalu baper.”
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Bahkan kadang dianggap sebagai nasihat agar seseorang lebih sabar menghadapi pasangannya.
Tapi bagaimana jika kalimat yang dianggap sebagai candaan itu terjadi setiap hari?
Bagaimana jika pasangan sering mengatakan kita bodoh, tidak berguna, tidak cantik lagi, tidak pandai mengurus rumah, tidak becus mengurus anak, atau selalu membandingkan kita dengan orang lain?
Lebih menyakitkan lagi, bagaimana jika semua itu dilakukan di depan anak-anak, keluarga, atau teman?
Banyak orang mengenal bullying sebagai tindakan yang terjadi di sekolah, lingkungan pertemanan, atau tempat kerja. Padahal, perilaku merendahkan dan menyakiti secara terus-menerus juga bisa terjadi di dalam hubungan rumah tangga.
Ironisnya, pelakunya justru orang yang setiap hari tidur di sebelah kita.
Orang yang seharusnya menjadi tempat berbagi.
Orang yang seharusnya memberikan rasa aman.
Dan orang yang pernah berjanji untuk menjaga kita.
Ketika Bullying Terjadi di Dalam Rumah
Bullying dalam hubungan pasangan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik.
Kadang tidak ada tamparan.
Tidak ada pukulan.
Tidak ada luka yang terlihat.
Namun ada kalimat-kalimat yang perlahan menghancurkan kepercayaan diri.
“Begitu saja nggak bisa.”
“Kamu memang nggak pernah pintar.”
“Lihat tuh, istri orang lain bisa.”
“Kalau bukan karena saya, kamu bukan siapa-siapa.”
“Jangan merasa hebat.”
“Badanmu sekarang sudah jelek.”
“Makanya jangan banyak bicara.”
Pada awalnya mungkin kita tertawa.
Kemudian mencoba menganggapnya sebagai candaan.
Lalu memilih diam karena tidak ingin bertengkar.
Namun ketika hal itu terus berulang, kita mulai bertanya kepada diri sendiri:
“Jangan-jangan memang aku yang tidak cukup baik?”
Di sinilah bahayanya.
Bullying dari pasangan bisa membuat seseorang perlahan kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Bukan hanya sakit hati sesaat, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya, mengambil keputusan, berkomunikasi, bahkan menjalani kehidupan sehari-hari.
Tidak Semua Candaan Itu Lucu
Dalam sebuah keluarga, bercanda tentu sesuatu yang wajar.
Suami menggoda istri.
Istri menggoda suami.
Anak-anak ikut tertawa.
Semua terasa ringan karena ada rasa saling menghormati.
Yang membedakan candaan sehat dengan bullying adalah dampaknya dan pola perilakunya.
Candaan biasanya membuat kedua belah pihak bisa tertawa.
Bullying membuat satu pihak tertawa sementara pihak lainnya merasa dipermalukan.
Candaan bisa berhenti ketika seseorang mengatakan, “Aku nggak nyaman.”
Bullying justru sering dilanjutkan dengan kalimat:
“Baper banget.”
“Cuma bercanda.”
“Gitu saja tersinggung.”
Padahal, sebuah candaan seharusnya tidak membutuhkan penderitaan orang lain agar bisa dianggap lucu.
Bentuk-Bentuk Bullying yang Sering Tidak Disadari dalam Pernikahan
Bullying pasangan dapat muncul dalam berbagai bentuk.
1. Merendahkan kemampuan pasangan
Misalnya terus mengatakan bahwa pasangan tidak pintar, tidak mampu bekerja, tidak bisa mengurus rumah, atau selalu melakukan kesalahan.
Jika sesekali terjadi dalam situasi tertentu, pasangan mungkin sedang marah atau kecewa.
Namun jika penghinaan tersebut menjadi pola komunikasi sehari-hari, kita perlu berhenti dan mengevaluasinya.
2. Membandingkan pasangan dengan orang lain
“Lihat tetangga kita, istrinya lebih pintar.”
“Suaminya dia bisa memberikan ini, kamu apa?”
“Kenapa kamu nggak seperti kakakmu?”
Perbandingan yang dilakukan terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tidak pernah cukup.
Padahal dalam pernikahan, pasangan bukan peserta lomba yang harus terus dibandingkan dengan orang lain.
3. Mempermalukan pasangan di depan orang lain
Ini merupakan salah satu bentuk yang sangat menyakitkan.
Misalnya pasangan membuka kekurangan kita di depan keluarga besar atau teman-teman.
Cerita yang seharusnya menjadi privasi rumah tangga justru dijadikan bahan lelucon.
Yang membuat lebih berat adalah ketika orang-orang tertawa, sementara kita hanya bisa tersenyum untuk menyembunyikan rasa malu.
4. Menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata
Setiap orang memiliki sisi yang tidak ingin diketahui banyak orang.
Dalam hubungan yang sehat, kelemahan tersebut menjadi sesuatu yang dijaga.
Namun dalam hubungan yang tidak sehat, kelemahan justru digunakan ketika terjadi konflik.
“Memangnya kamu bisa hidup sendiri?”
“Kamu kan nggak punya penghasilan.”
“Kamu nggak akan ada yang mau.”
Kalimat semacam ini bukan sekadar perkataan kasar.
Jika digunakan untuk membuat seseorang takut dan merasa tidak mampu berdiri sendiri, dampaknya bisa sangat serius.
5. Mengontrol secara berlebihan
Bullying juga dapat berkaitan dengan perilaku mengontrol.
Misalnya menentukan dengan siapa pasangan boleh berteman, melarang bertemu keluarga, mengawasi komunikasi secara berlebihan, mengatur uang secara tidak sehat, atau membuat pasangan merasa bersalah setiap kali ingin melakukan sesuatu yang sebenarnya wajar.
Hubungan membutuhkan kepercayaan, bukan pengawasan tanpa batas.
Mengapa Seseorang Sering Bertahan?
Pertanyaan yang sering muncul adalah:
“Kalau memang diperlakukan buruk, kenapa tidak pergi saja?”
Pertanyaan tersebut terdengar mudah bagi orang yang melihat dari luar.
Tetapi kehidupan rumah tangga tidak sesederhana itu.
Ada anak-anak.
Ada ekonomi.
Ada keluarga besar.
Ada rasa cinta.
Ada kenangan bertahun-tahun.
Ada ketergantungan finansial.
Ada ketakutan.
Ada harapan bahwa pasangan akan berubah.
Bahkan ada keyakinan bahwa mempertahankan rumah tangga adalah bentuk kesabaran.
Karena itu, kita perlu berhati-hati sebelum menghakimi seseorang yang masih bertahan dalam hubungan yang menyakitkan.
Terkadang seseorang bukan tidak berani pergi.
Ia hanya sedang berusaha mencari jalan keluar yang paling aman.
Mencegah Agar Bullying Tidak Menjadi Kebiasaan dalam Rumah Tangga
Pencegahan sebaiknya dilakukan sejak perilaku tersebut mulai terlihat.
Jangan menunggu sampai penghinaan menjadi kebiasaan bertahun-tahun.
Pertama, kenali batas diri
Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang menghormati martabatnya.
Menjadi pasangan yang sabar bukan berarti harus menerima penghinaan tanpa batas.
Kita bisa mengatakan:
“Aku bersedia membicarakan masalah ini, tetapi aku tidak bersedia dihina.”
Kalimat tersebut bukan ancaman.
Itu adalah batas.
Kedua, bicarakan ketika suasana sudah tenang
Jangan selalu menyelesaikan konflik ketika emosi sedang tinggi.
Pilih waktu ketika pasangan cukup tenang.
Jelaskan perilaku yang membuat kita terluka, bukan sekadar menyerang karakter pasangan.
Misalnya:
“Ketika kamu mengatakan aku bodoh di depan anak-anak, aku merasa dipermalukan. Aku ingin kalau ada masalah, kita membicarakannya tanpa saling merendahkan.”
Komunikasi seperti ini memberi kesempatan kepada pasangan untuk memahami dampak perilakunya.
Ketiga, jangan membalas penghinaan dengan penghinaan
Ketika disakiti, sangat manusiawi jika kita ingin membalas.
Tetapi saling merendahkan hanya akan menciptakan lingkaran yang semakin buruk.
Tujuan komunikasi bukan memenangkan pertengkaran.
Tujuannya adalah mencari penyelesaian.
Keempat, jangan menormalisasi perilaku yang menyakitkan
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Kalimat seperti:
“Memang sifatnya begitu.”
“Dia kalau marah memang kasar.”
“Sudahlah, namanya juga laki-laki.”
“Semua rumah tangga juga bertengkar.”
tidak selalu membantu.
Pertengkaran memang normal dalam hubungan.
Tetapi penghinaan, intimidasi, ancaman, kontrol yang berlebihan, dan kekerasan bukan sesuatu yang harus dianggap normal.
Anak-Anak Juga Bisa Menjadi Korban
Ada satu alasan lagi mengapa bullying dalam rumah tangga perlu dihentikan.
Anak-anak melihatnya.
Walaupun kita merasa anak masih kecil dan belum mengerti, mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Anak dapat belajar bahwa membentak adalah cara menyelesaikan masalah.
Bahwa pasangan boleh direndahkan.
Bahwa orang yang dicintai boleh diperlakukan kasar.
Padahal kita tentu ingin anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa hubungan yang sehat dibangun dari rasa hormat.
Karena itu, memperbaiki cara pasangan berkomunikasi bukan hanya untuk menyelamatkan perasaan suami atau istri.
Tetapi juga untuk memberikan contoh hubungan yang sehat kepada anak.
Bagaimana Jika Pasangan Tidak Mau Berubah?
Inilah bagian yang sering membuat seseorang bingung.
Kita sudah berbicara baik-baik.
Sudah meminta agar tidak dihina.
Sudah menjelaskan bahwa perilakunya menyakiti.
Tetapi semuanya terus berulang.
Dalam kondisi seperti ini, jangan hanya melihat janji.
Lihat pola perilakunya.
Apakah pasangan benar-benar berusaha berubah?
Apakah ia mengakui kesalahannya?
Apakah ia bersedia mencari bantuan?
Ataukah setiap kali melakukan kesalahan, ia justru menyalahkan kita?
Perubahan yang nyata biasanya terlihat dari tindakan, bukan hanya dari permintaan maaf.
Jangan Menghadapi Sendirian
Ketika seseorang mengalami bullying dari pasangan, sering kali ia merasa malu untuk bercerita.
Takut keluarga ikut campur.
Takut dianggap gagal membangun rumah tangga.
Takut tidak dipercaya.
Takut malah disalahkan.
Padahal mencari dukungan bukan berarti membuka aib keluarga.
Kita bisa memilih satu orang yang benar-benar dipercaya.
Keluarga yang bijaksana.
Teman yang dewasa.
Konselor pernikahan.
Psikolog.
Tokoh agama yang memahami persoalan keluarga dan tidak sekadar menyuruh seseorang “bersabar”.
Jika sudah terdapat ancaman, kekerasan fisik, pemaksaan, atau kondisi yang membuat keselamatan diri maupun anak terancam, keselamatan harus menjadi prioritas.
Jangan menunggu sampai keadaan menjadi lebih buruk.
Rumah Seharusnya Menjadi Tempat Pulang
Pernikahan bukan tentang mencari siapa yang paling berkuasa.
Bukan pula tentang siapa yang selalu benar.
Pernikahan adalah tempat dua manusia belajar tumbuh bersama.
Ada perbedaan.
Ada kesalahan.
Ada kekecewaan.
Ada hari-hari ketika suami dan istri sama-sama lelah.
Tetapi semua itu tidak harus diselesaikan dengan penghinaan.
Kita boleh marah tanpa merendahkan.
Kita boleh kecewa tanpa mempermalukan.
Kita boleh berbeda pendapat tanpa mengancam.
Dan kita boleh meminta maaf tanpa kehilangan harga diri.
Karena cinta yang sehat seharusnya membuat seseorang merasa aman menjadi dirinya sendiri, bukan terus-menerus takut melakukan kesalahan.
Mencegah Dibully oleh Pasangan Dimulai dari Berani Menghargai Diri Sendiri
Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan rumah tangga sampai lupa mempertahankan diri sendiri.
Padahal menjaga diri bukan berarti tidak mencintai pasangan.
Justru dengan memiliki batas yang sehat, kita sedang mengajarkan bagaimana kita ingin diperlakukan.
Tidak perlu berteriak.
Tidak perlu membalas.
Tidak perlu melakukan kekerasan.
Cukup berani mengatakan:
“Aku ingin kita menyelesaikan masalah ini sebagai pasangan. Tetapi aku tidak mau hubungan kita dibangun dengan penghinaan.”
Kalimat sederhana itu mungkin tidak langsung mengubah seseorang.
Namun setidaknya kita telah berhenti menganggap luka sebagai sesuatu yang wajar.
Dan mungkin, dari situlah perubahan dimulai.
Penutup
Tidak semua luka dalam rumah tangga terlihat.
Ada luka yang tidak meninggalkan lebam, tetapi membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri.
Ada kata-kata yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi membutuhkan bertahun-tahun untuk dilupakan.
Karena itu, mari belajar membedakan antara konflik rumah tangga yang wajar dengan pola perilaku yang merendahkan dan menyakiti.
Jika kita mencintai pasangan, mari belajar menghormatinya.
Jika kita mencintai anak-anak, mari tunjukkan kepada mereka seperti apa hubungan yang sehat.
Dan jika saat ini kita sedang berada dalam hubungan yang membuat kita terus-menerus merasa kecil, tidak berharga, atau takut, ingatlah satu hal:
Meminta untuk dihormati bukan berarti terlalu sensitif.
Menetapkan batas bukan berarti tidak mencintai.
Dan mencari pertolongan bukan berarti gagal mempertahankan keluarga.
Karena rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang tidak pernah bertengkar.
Melainkan rumah tangga yang, bahkan ketika sedang berbeda pendapat, tetap menjaga martabat orang yang dicintainya.

Duh, kok bisa ya pasangan sendiri malah suka merendahkan? 😔 Padahal harusnya saling support, bukan bikin sakit hati. Penting banget nih belajar tegas dan berani pasang batasan! Jangan sampai kita terus mengalah cuma demi menjaga hubungan. Hubungan yang sehat itu harusnya bikin nyaman dan saling menghargai, bukan malah bikin tertekan.
BalasHapusTerima kasih Mbak Nurul, kenyataannya hal demikian banyak terjadi pada pasangan suami istri, apalagi bila pasangan tidak punya tanggung jawab dan kasih sayang yang tulus pada pasangan.
HapusSemoga kita dan anak keturunan kita terhindar dari pasangan yang sedemikian. Salam hangat.
Banyak peristiwa bullying yg terjadi dalam runah tangga, utamanya suami terhadap isteri. Tetapi ternyata banyak juga wanita yg tidak berani speak up, hanya bisa mengalah dan bersabar disebabkan adanya faktor ekonomi atau yg lain. Jadi sebaiknya sebagai istri juga harus berani speak up dan memberi batasan2 yg disepakati berdua agar tidak terjadi hal2 tersebut.
BalasHapusbetul sekali mbak, miris aku baca-baca di komentar IG dan Threads , banyak laki-laki yang kurang paham atau nggak paham etika , egois terhadap pasangannya merasa dirinya lepih superior dari wanita jadi berlaku seenaknya. Kecuali mereka yang ngerti agama , adap berumahtangga justru menjadikan istri sebagai orang yang harus dilindungi, dimuliakan dengan kasih sayang
HapusLengkap banget mba bahasannya jadi makin tercerahkan.. memang harus cinta diri sendiri ya jangan sampai kita normalisasi diinjak pasangan dengan alasan dia hidup kita...
BalasHapusmumpung lagi semangat bahas soal ini, mbak . nyesek banget sering baca hal ini, ternmasuk di lingkungan sendiri
HapusNyesek banget kalau rumah untuk pulang malah jadi neraka dunia karena pasangan yang sering menyakiti hati dan fisik..
BalasHapus