![]() |
| peserta ASUS Gathering Semarang , foto panitia |
“Kalau laptop dipakai hampir setiap hari, sebenarnya apa yang paling kita cari? Performa tinggi, desain menarik, atau justru rasa tenang karena tahu laptop tersebut punya perlindungan dan layanan yang jelas?”
Pertanyaan itu justru muncul di benak saya setelah mengikuti acara ASUS No.1 Quality & Service Media Gathering Semarang 2026, Kamis, 17 September 2026.
Awalnya saya membayangkan acara ini akan banyak membahas laptop terbaru ASUS, spesifikasi, teknologi, dan mungkin sedikit tentang Artificial Intelligence atau AI.
Ternyata pembahasannya lebih luas.
ASUS tidak hanya mengajak kami melihat laptop dari sisi “seberapa cepat perangkat ini bekerja”, tetapi juga dari sisi yang sering kali baru kita pikirkan setelah membeli laptop: seberapa tangguh perangkatnya dan bagaimana layanan purnajualnya?
Dan menurut saya, justru di situlah menariknya acara ini.
ASUS No.1 Quality & Service 2026, Apa yang Saya Dapat dari Acara Ini?
Acara ASUS No.1 Quality & Service 2026 di Semarang mempertemukan ASUS dengan blogger dan rekan kreator lokal.
Dalam acara tersebut, ASUS memperkenalkan program kualitas dan layanan purnajual, sekaligus memberikan gambaran mengenai perkembangan teknologi laptop ASUS, termasuk ekosistem AI.
ASUS juga menghadirkan booth durability test, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi dapat melihat bagaimana laptop ASUS diuji berdasarkan standar MIL-STD 810H.
Bagi saya sebagai blogger, pengalaman melihat dan mendengarkan pemaparan secara langsung tentu berbeda dengan sekadar membaca spesifikasi dari sebuah brosur.
Dan ada kesempatan untuk melihat bagaimana ASUS mencoba menerjemahkan konsep Quality & Service ke dalam produk dan layanan yang mereka tawarkan.
Ketika ASUS Bicara Tentang Laptop Tangguh
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian saya adalah ketika ASUS membahas US Military-Grade Laptop Durability.
Di layar presentasi yang ditampilkan dalam acara tersebut, ASUS menjelaskan berbagai jenis pengujian yang dilakukan dalam rangkaian pengujian MIL-STD 810H.
Beberapa angka yang ditampilkan cukup menarik:
- Shock Test: 40G, 11 ms, 18 kali guncangan
- Vibration Test: 5–500 Hz selama 60 menit
- Altitude Test: hingga 15.000 kaki, pada 5°C/40°C selama 12 jam
- Low Temperature Test: -25°C hingga -33°C selama 168 jam
- High Temperature Test: 33°C hingga 71°C selama 168 jam
Melihat daftar pengujian tersebut membuat saya berpikir, ternyata untuk menyebut sebuah laptop “tangguh”, prosesnya tidak sesederhana yang mungkin kita bayangkan.
ASUS menjelaskan bahwa pengujian tersebut berkaitan dengan ketahanan perangkat terhadap berbagai kondisi seperti guncangan, getaran, ketinggian, suhu rendah, dan suhu tinggi.
Di acara tersebut, peserta juga dapat melihat booth durability test sebagai bagian dari demonstrasi ketangguhan laptop ASUS. Materi ASUS menyebutkan pengujian mencakup guncangan, suhu ekstrem, kelembapan, hingga tekanan udara rendah.
Tentu saja, pengujian standar militer tersebut bukan berarti laptop dibuat untuk digunakan di medan militer. Yang ingin ditunjukkan adalah bagaimana perangkat diuji terhadap kondisi tertentu yang ekstrem.
Dan bagi pengguna sehari-hari, informasi seperti ini menurut saya cukup relevan.
Sebab laptop bukan perangkat yang selalu berada manis di atas meja.
Kadang dibawa bekerja ke luar rumah.
Masuk ke dalam tas.
Dibawa bepergian.
Digunakan berpindah-pindah tempat.
Bahkan tidak jarang harus bekerja dalam kondisi lingkungan yang berbeda.
Ketangguhan Saja Tidak Cukup
Nah, setelah membahas ketahanan, ASUS kemudian membawa pembahasan ke hal yang menurut saya justru sangat penting: perlindungan konsumen.
Sebab, sekuat apa pun sebuah perangkat, konsumen tetap ingin mengetahui apa yang terjadi jika suatu hari perangkat tersebut mengalami masalah.
Dalam presentasi ASUS ditampilkan konsep “Full of Protection”.
Ada dua angka yang langsung menarik perhatian saya:
141 Service Center di Indonesia
dan
90+ negara dalam cakupan layanan.
ASUS memang menyebutkan bahwa jaringan layanan mereka kini mencakup 141 titik layanan resmi di Indonesia dan cakupan internasional di lebih dari 90 negara.
Bagi saya, ini menjadi salah satu bagian yang penting ketika seseorang sedang mempertimbangkan untuk membeli laptop.
Karena membeli laptop bukan hanya tentang mendapatkan barang.
Kita juga membeli pengalaman penggunaan dalam jangka panjang.
Garansi Laptop ASUS hingga 3 Tahun
Dalam pemaparan tersebut, ASUS juga menjelaskan mengenai peningkatan perlindungan garansi.
Untuk beberapa lini seperti ASUS Zenbook, ProArt, Vivobook S/Flip, dan Vivobook Pro, materi presentasi menunjukkan perlindungan hingga:
3 Tahun International Warranty + 3 Tahun ADP.
Sementara lini Vivobook mendapatkan hingga:
2 Tahun International Warranty + 2 Tahun ADP.
Untuk lini gaming seperti ROG, TUF Gaming, dan ASUS Gaming, materi yang dipresentasikan menunjukkan hingga 2 Tahun International Warranty + 2 Tahun ADP.
Sedangkan untuk aksesori, ASUS memberikan informasi mengenai 1 Tahun 100% Replacement (Local).
Untuk lini desktop tertentu juga terdapat perlindungan on-site.
Bagi saya, istilah ADP atau Accidental Damage Protection menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan ketika memilih perangkat.
Karena risiko penggunaan sehari-hari tentu ada.
Dan kita semua pasti lebih tenang ketika mengetahui jenis perlindungan yang tersedia sebelum membeli.
Dari Spesifikasi ke Layanan Purnajual
Ada satu hal yang saya rasakan setelah mengikuti pemaparan ASUS.
Selama ini ketika membeli laptop, kita cenderung bertanya:
“Prosesornya apa?”
“RAM berapa?”
“SSD berapa?”
“Layarnya bagus tidak?”
Padahal seharusnya ada beberapa pertanyaan tambahan:
“Garansinya berapa tahun?”
“Service centernya ada di mana?”
“Bagaimana kalau laptop mengalami kerusakan tidak disengaja?”
“Apakah ada layanan jemput dan antar?”
Nah, ASUS juga menjelaskan beberapa layanan Premium Service untuk pengguna Zenbook, ProArt dan ROG, seperti Fastlane, Free Round-Trip Shipping, dan Laptop Spa.
Free Round-Trip Shipping misalnya memberikan layanan jemput dan antar laptop dari rumah menuju service center, sedangkan Laptop Spa merupakan layanan perawatan berkala, termasuk membersihkan debu dan kotoran serta melakukan penggantian pasta jika diperlukan.
Menurut saya, justru informasi seperti ini yang sering terlewat ketika kita sedang sibuk membandingkan spesifikasi laptop.
ASUS ProArt, Zenbook, dan Vivobook Punya Karakter Berbeda
Dalam acara tersebut, ASUS juga kembali memperkenalkan berbagai lini laptop yang ditujukan untuk kebutuhan berbeda.
Ada ASUS ProArt yang menyasar pengguna kreatif.
Ada ASUS Zenbook Duo yang menawarkan desain premium dan mobilitas. Multi Mode Versatility dengan dual screen, dekstop sharing & mode, memudahkan untuk multi stalking dalam bekerja dengan membuka dua layar sekaligus.
Ada pula ASUS Vivobook 14 yang lebih dekat dengan kebutuhan pengguna sehari-hari pekerja dan ASUS Vivobook Go 14 menjadi laptop terbaik untuk pelajar.
ASUS menyebut ProArt juga dilengkapi ASUS DialPad untuk membantu mempercepat alur kerja kreatif. ASUS ProArt PX13 merupakan laptop yang bisa diputar menjadi tablet. ProArt PZ14 yang bisa digunakan sebagai tablet dengan mencopot keybordnya.
Sementara ASUS Zenbook 14 menggunakan material Ceraluminum™, yang menjadi bagian dari desain laptop tipis dan ringan 1,2 kg. Serta baterai yang bisa dipakai seharian dan layar oled display.
Jadi, tidak semua laptop harus dipandang dengan ukuran “mana yang paling tinggi spesifikasinya”.
Yang lebih penting adalah:
mana yang sesuai dengan kebutuhan kita?
Pick Your Vibe: Laptop Juga Bisa Menjadi Bagian dari Gaya Personal
![]() |
| koleksi penulis |
Pembahasan berikutnya terasa lebih ringan.
ASUS memperkenalkan konsep “Pick Your Vibe.”
Saya cukup menyukai konsep ini karena laptop sekarang sudah menjadi bagian dari aktivitas personal.
Bukan hanya untuk bekerja.
Laptop bisa menemani kuliah, sekolah, membuat konten, menulis, mengedit, rapat online, bekerja dari kafe, bahkan sekadar digunakan untuk aktivitas hiburan.
ASUS Vivobook hadir dengan pilihan warna yang lebih beragam. ASUS juga menghadirkan Marshmallow Keyboard dan Marshmallow Mouse dengan pilihan warna pastel seperti Lilac Mist Purple, Quiet Blue, dan Sage Green.
Jadi, bagi pengguna yang ingin perangkatnya terlihat lebih personal, pilihan warna juga bisa menjadi pertimbangan.
ASUS SmartO Mouse untuk Aktivitas Lebih Nyaman
Selain Marshmallow Series, ASUS juga memperkenalkan ASUS SmartO Mouse MD200.
Mouse ini memiliki desain ergonomis dengan sandaran ibu jari dan sensor presisi tinggi.
Targetnya adalah pengguna yang membutuhkan kenyamanan untuk aktivitas dalam waktu cukup panjang, baik untuk pekerjaan, tugas kuliah, maupun proyek kreatif.
Detail seperti ini mungkin terlihat kecil.
Tetapi bagi orang yang bekerja berjam-jam di depan laptop, perangkat pendukung seperti mouse justru bisa cukup berpengaruh terhadap kenyamanan.
Masuk ke Dunia Laptop AI ASUS
Setelah membahas ketahanan, perlindungan, layanan, dan desain, pembahasan kemudian bergerak ke salah satu topik teknologi yang sekarang sedang berkembang pesat: AI.
Di layar presentasi ASUS ditampilkan konsep:
“The Fastest, Most Intelligent AI PC”
dengan tiga bagian yang menarik perhatian saya:
Dedicated AI Chip
Copilot+ PC Certified
dan
ASUS AI Applications
ASUS menjelaskan bahwa laptop AI mereka menggunakan NPU atau Neural Processing Unit sebagai chip khusus untuk pemrosesan AI.
Performa NPU pada lini tertentu disebut dapat mencapai 80+ TOPS AI Performance.
Sementara sertifikasi Copilot+ PC dikaitkan dengan peningkatan keamanan, kecepatan, dan personalisasi.
ASUS juga mengembangkan berbagai aplikasi AI untuk membantu aktivitas pengguna sehari-hari.
Hal ini sejalan dengan materi ASUS yang menyebut Zenbook, Vivobook S Series dan ProArt memiliki NPU hingga 50+ TOPS dan mencapai 80 TOPS pada varian tertinggi.
AI Bukan Lagi Sekadar Chatbot
Yang menarik bagi saya, ASUS tidak berhenti pada pembahasan AI sebagai chatbot.
Ada ASUS Virtual Assistant Omni, yang disebut dapat bekerja secara offline.
Artinya, ada pemrosesan AI yang dapat dilakukan tanpa harus selalu terhubung ke internet.
Menurut ASUS, pendekatan ini juga dapat membantu menjaga privasi data pengguna sekaligus mempertahankan respons yang baik ketika koneksi internet tidak tersedia.
Kemudian ada pula ASUS Zenni Claw.
ASUS memperkenalkannya sebagai platform AI Agent yang dapat memahami tujuan pengguna, menyusun langkah kerja, dan membantu menyelesaikan tugas multi-tahap.
Contohnya mulai dari membuat draf presentasi, menyusun itinerary perjalanan, hingga membuat ringkasan berita.
Pemrosesan AI dapat dilakukan secara local, cloud, maupun hybrid, sehingga pengguna dapat menyesuaikan kebutuhan berdasarkan performa, kecepatan, dan privasi data.
Kalau Saya Seorang Content Creator, Bagian Ini Cukup Menarik
Sebagai blogger dan kreator, tentu pembahasan AI cukup menarik perhatian saya.
Bayangkan saja pekerjaan membuat konten.
Mulai dari mencari ide, menulis artikel, membuat presentasi, menyusun perjalanan liputan, merangkum informasi, sampai mengolah berbagai materi.
Tentu AI tidak otomatis menggantikan kreativitas manusia.
Tetapi kalau teknologi tersebut dapat membantu mengurangi pekerjaan yang sifatnya repetitif, waktu kita bisa lebih banyak digunakan untuk memikirkan ide dan kreativitas.
Dan menurut saya, di situlah laptop AI mulai terasa manfaatnya.
Bukan sekadar karena ada tulisan “AI” di kemasan, tetapi karena ada fungsi nyata yang bisa digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.
ASUS Juga Menekankan Pembelian melalui Kanal Resmi
Hal lain yang saya catat dari materi ASUS adalah pentingnya membeli produk melalui kanal resmi.
ASUS menyebut unit yang memenuhi syarat dapat dibeli melalui jaringan penjualan resmi seperti ASUS Exclusive Store, gerai mitra resmi, ASUS Online Store, serta official store ASUS di marketplace resmi.
Pembelian melalui kanal resmi memastikan unit terdaftar sehingga berbagai layanan dapat diakses melalui aplikasi MyASUS.
Menurut saya, ini juga penting.
Jangan sampai kita hanya mengejar harga paling murah, tetapi kemudian bingung ketika membutuhkan layanan purnajual.
Dari Semarang, Saya Pulang Membawa Perspektif Baru
Setelah mengikuti acara ASUS No.1 Quality & Service Media Gathering Semarang 2026, saya justru merasa pembahasan paling menarik bukan hanya tentang laptop baru.
Tetapi tentang bagaimana kita seharusnya melihat sebuah laptop.
Laptop bukan sekadar benda dengan prosesor, RAM, SSD dan layar.
Laptop bisa menjadi alat untuk bekerja.
Untuk belajar.
Untuk membuat konten.
Untuk mencari penghasilan.
Untuk berkarya.
Dan karena digunakan dalam jangka panjang, maka ketahanan dan layanan purnajual juga layak menjadi bagian dari pertimbangan.
ASUS sendiri menyebut program No.1 Quality & Service hadir sebagai bentuk penguatan kualitas dan layanan purnajual, dengan lini produk seperti ProArt, Zenbook dan Vivobook sebagai bagian dari ekosistem tersebut.
Jadi, Apa yang Perlu Kita Lihat Saat Membeli Laptop?
Setelah mendengarkan pemaparan langsung dari ASUS, saya pribadi akan memasukkan beberapa hal ke dalam daftar pertimbangan.
1. Performa
Pastikan spesifikasi sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
2. Ketahanan
Cari tahu bagaimana perangkat diuji dan standar ketahanan yang digunakan.
3. Garansi
Jangan hanya melihat harga laptop. Perhatikan juga perlindungan yang diberikan.
4. Service Center
Mengetahui lokasi layanan resmi bisa menjadi hal penting untuk penggunaan jangka panjang.
5. Kenyamanan
Desain, berat laptop, keyboard, layar, hingga perangkat pendukung seperti mouse juga layak diperhatikan.
6. Teknologi AI
Jika pekerjaan kita membutuhkan AI, perhatikan kemampuan NPU dan aplikasi AI yang benar-benar tersedia.
7. Kanal Pembelian
Pastikan membeli melalui kanal resmi agar status produk dan akses layanan dapat terjamin sesuai ketentuan yang berlaku.
Penutup: Ternyata Memilih Laptop Bukan Hanya Soal “Bagus atau Tidak”
Ada satu kalimat yang terus teringat setelah mengikuti acara ini:
Laptop yang bagus bukan hanya laptop yang terlihat menarik ketika pertama kali dibeli.
Tetapi juga laptop yang mampu menemani aktivitas kita setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun digunakan.
Dari durability test MIL-STD 810H, jaringan 141 service center di Indonesia, perlindungan garansi hingga 3 tahun untuk lini tertentu, pilihan warna melalui konsep Pick Your Vibe, sampai ekosistem AI dengan NPU hingga 80+ TOPS pada varian tertentu, ASUS mencoba menawarkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar spesifikasi perangkat.
Bagi saya, pengalaman mengikuti ASUS No.1 Quality & Service Media Gathering Semarang 2026 memberikan satu sudut pandang baru.
Ketika memilih laptop, jangan hanya bertanya:
“Seberapa cepat laptop ini?”
Coba tambahkan:
“Seberapa siap laptop ini menemani kebutuhan saya dalam jangka panjang?”
Karena pada akhirnya, teknologi bukan hanya tentang angka dan spesifikasi.
Teknologi seharusnya membuat aktivitas kita menjadi lebih mudah, lebih produktif, dan lebih nyaman.
Dan mungkin, itulah pesan yang paling saya tangkap dari pertemuan ASUS bersama media dan kreator di Semarang kali ini.
---
#ASUSGatheringSemarang
#ASUSID
#LaptopKerjaTerbaik
#LaptopPelajarTerbaik




Posting Komentar
Posting Komentar